CN-235 TUDM Lintasi Karang Unarang Ambalat Diusir NC-212 TNI AL

Inilah foto situasi ketika CN-235 TUDM berhasil diusir oleh NC-212 TNI AL dari Ambalat, Selasa (20/3). Ironisnya, CN-235 maupun NC-212 ini sama-sama buatan PT.DI/IPTN Indonesia.

Surabaya (ANTARA News) - Pesawat patroli TNI-AL mengusir satu pesawat Tentara Diraja Malaysia yang melanggar wilayah Indonesia dengan terbang di atas Karang Unarang, Perairan Ambalat, Kalimantan Timur.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal), Kolonel Laut (P) Imam Musani, ketika dihubungi ANTARA di Surabaya Selasa mengatakan, pesawat Malaysia yang melakukan pelanggaran itu berjenis CN-235 dengan nomor lambung M44-05.

"Peristiwa pengusiran terjadi sekitar pukul 10.32 WITA. Saat itu pesawat patroli TNI-AL jenis Casa NC-212-200 bernomor P-851 melihat pesawat Malaysia melintas masuk wilayah RI di atas Karang Unarang," katanya.

NC-212-200 TNI AL P-851 yang berhasil menghalau CN-235 TUDM dari Ambalat, Selasa (20/3).
(Sumber Foto: Ardava)

Pesawat Casa TNI-AL yang dipiloti Mayor Laut (P) Imam Safii dan sedang melakukan Operasi Tameng Hiu di wilayah Tarakan, Perairan Ambalat dan sekitarnya, langsung bergerak membayang-bayangi (shadowing) pesawat milik Malaysia dan selanjutnya melakukan pengusiran. Pada saat shadowing, NC-212-200 TNI AL dan CN-235 TUDM berjarak kurang dari 0,5 mil satu sama lain, pada ketinggian 500 kaki.

Sebelumnya Casa NC-212-200 TNI AL juga telah mendapatkan informasi dari KRI Layang - 805 tentang adanya gerakan hostile intent dari kapal perang kelas Baung milik TLDM yang dibantu oleh kapal Pintar - 5194 dari Coast Guard Malaysia.

Kolonel Imam Musani menambahkan, peristiwa pelanggaran batas wilayah yang dilakukan pihak Tentara Diraja Malaysia tersebut, bukan terjadi kali ini saja.

Selain melanggar batas wilayah udara, kapal perang milik Tentara Diraja Malaysia juga beberapa kali memasuki wilayah perairan RI dan diusir kapal perang Indonesia yang sedang patroli.

"Ke depan, kami akan lebih mengintensifkan kegiatan operasi dengan menambah frekuensi kegiatan patroli udara," ujar Musani.

Menurut ia, Puspenerbal saat ini tengah menunggu kedatangan lima unit pesawat baru jenis CN-235-220 yang dipesan TNI-AL dari PT Dirgantara Indonesia untuk memperkuat armada udara yang ada saat ini.

Beberapa waktu sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno menegaskan bahwa masalah pengamanan di wilayah pulau terluar yang berbatasan dengan negara tetangga tetap menjadi prioritas dari TNI-AL.

---

Sumber Berita:
Antara dan Sumber Internal TANDEF

Foto:
Puspenerbal

hendracula's picture

Senjata Makan Tuan

Mudah2an jangan sampai terjadi 'Senjata Makan Tuan', Cassa NC-212 ALRI head to head versus CN-235 TUDM..

Buat pangkalan mini di karang unangan

Buat saja pangkalan mini di karang unangan, untuk bersandar semantara KRI, atau ground site untuk SSM/SAM, jadi sambil bersandar, juga dapat merawat tower batas RI

Ambalat

Jagain ama S 60 5 buah dijajarkan kalau kena njeblug juga itu CN 235, tapi prosedurnya kan gak harus tembak duluan nati jadi rame...usir dulu baru kirim surat cinta...Baidowi katanya di Kalimantan ada S 300 atau BUK/TOR 5 batterei benar apa gak sih?

apa yang telah terjadi

apa yang telah terjadi diatas merupakan gambaran yg nyata dan tlah berulang kali malaysia melakukan aksi provokasi, yg menyedihkan si malaysia menggunakan pesawat produksi negara kita, itu merupakan penghinaan yang sangat sangat melecehkan kita,tidak menutup kemungkinan dia juga akan melakukan provokasi di daratan perbatasan dengan menggunakan panser buatan pindad yg dia beli dari kita. oleh sebab itu saatnya kita semua dari semua lapisan masyarakat Indonsia, "buka mata" kita, "satukan langkah" dan "perkuat jiwa nasionalisme", jangan sampai org kita di rekrut jd tentera pengawal perbatasan malaysia, hanya dengan iming2 gaji yg lebih. kalo itu terjadi, dan sampe terjadi konflik terbuka, berarti sama saja kita berperang dgn warga negara kita sendiri, n alat tempur kita sendiri juga. ingat NKRI HARGA MATI.

PERTAHANAN UDARA YANG KUAT

Sebaiknya kita mulai meninggalkan pertahanan udara jarak pendek/dengan pesawat karena kita akan terus di ledek dengan negara tetangga yang suka seenaknya sendiri keluar masuk negara kita tanpa ijin alangkah lebih baiknya jika Indonesia bisa membeli rudal jarak menengah/jarak jauh sekelas S300/S400 dari Rusia yang mempunyai kemampuan mencegat rudal balistik,dan menyergap pesawat asing musuh dan di tempatkan di wilayah2 perbatasan atau Rudal Patriot dari Amerika yang punya fungsi yang sama lebih bagus lagi jika ada transfer teknologi pembuatanya yang diharapkan suatu saat kita bisa membuat sendiri rudal tersebut.Jika kita mempunyai salah satu dari rudal itu negara tetangga yang suka usil mungkin akan berfikir 2kali atau lebih untuk memasuki wilayah Indonesia dengan seenaknya.