Palapa Ring Menghubungkan 33 Provinsi, 460 Kabupaten dan 440 Kota, serta Bermanfaat untuk Pertahanan NKRI

noorpramadi's picture

Oleh : Kol Lek Noor Pramadi, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

Perjalanan sejarah bidang komunikasi di Indonesia mengalami lompatan, dimulai pada tahun 1967  stasiun bumi intelsat di Jatiluhur dioperasikan PT. Indosat diresmikan untuk hubungan telekomunikasi antara Indonesia dengan dunia internasional. Pada tahun 1976-1999 Palapa A1 satelit telekomunikasi domestik diluncurkan ke GSO, dan telah dilakukan 10 (sepuluh) kali peluncuran satelit milik Indonesia.  Operatornya Perum Telekomunikasi (Sekarang PT. Telekomunikasi Indonesia).   Seluruh Indonesia dapat dijangkau oleh  siaran TVRI maupun jasa telekomunikasi domestik. Badan swasta mulai diijinkan untuk mengoperasikan satelit.  Operator satelit di Indonesia PT. Telkom, PT. Satelindo, PT. Pasifik Satelit Nusantara dan PT. Media Citra Indostar.

Disamping satelit,  serat optik memiliki sejarah yang bermula pada masa Victoria, ketika fisikawan John Tyndall menemukan cahaya yang dapat berjalan dalam garis lengkung dalam bahan air dengan sejumlah refleksi internal.   Prinsip ini digunakan untuk mencerahkan aliran air dalam prinsip kerja air mancur.   Pada tahun 1952, fisikawan Narinder Singh Kapany memimpin eksperimen pada penemuan serat optik.    Penelitian ini didasarkan pada studi Tyndall.   Perkembangan selanjutnya, pada pertengahan abad-20, penelitian berfokus pada pembungkus serat (fiber) untuk mentransmisikan gambar, dengan peralatan utamanya ialah gastroscope di bidang kedokteran.  Fiber optic semi-flexible gastroscope pertama dipatenkan oleh Basil Hirschowitz, C. Wilbur Peters, Lawrence E. Curtiss dan peneliti di Universitas Michigan pada tahun 1956.  Dalam proses perkembangan gastroscope, Curtis memproduksi fiber glass-clad pertama dan serat optic.

Sedangkan serat optic/fiber optic di Indonesia diawali dengan digunakannya jaringan paket radio sederhana 1200 Bps. Selanjutnya terus berkembang dan akhirnya timbul gagasan untuk menghubungkan seluruh Indonesia dengan serat optik yang disebut program Palapa Ring. Akses tersebut akan mendukung jaringan serat optik pita  lebar berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 Gbps (Giga bit per second atau Triliun bit per detik) hingga 1.000 Gbps dan diresmikan pencanangannya oleh Presiden SBY pada Senen, 30 November 2009. Peresmian Palapa Ring itu ditandai dengan dialog interaktif video teleconference Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang ada di Istana Negara Jakarta dengan para pemuka desa dari pelosok Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Kalimantan Barat. Jika jaringan Palapa Ring selesai digelar, maka setiap ibu kota kabupaten/kota di Indonesia yang berjumlah 440 akan saling terhubung dengan fiber optik yang merupakan jalur telekomunikasi yang “paling efisien” saat ini. Jaringan tersebut akan menjadi bagian dari jaringan internasional serat optik bawah laut seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar tersebut memperlihatkan jaringan kabel serat optik bawah laut, disamping itu juga memperlihatkan kapasitas jaringan serat optik pita  lebar berkecepatan tinggi tersebut yang dimiliki oleh setiap Negara. Terlihat bahwa di Indonesia  hanya Jakarta yang terhubung oleh jaringan serat optik internasional, dan kapasitasnya juga masih sangat terbatas dibandingkan dengan tempat-tempat lain, misalnya Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, Jepang dll. Bahkan kapasitas Indonesia (Jakarta) masih jauh dibawah dengan Philipina (Manila) terlihat pada gambar selanjutnya. Pengambangan jaringan fiber optik bawah laut dunia telah dimulai sejak tahun 1980-an dan Indonesia merupakan bagian dari jaringan internasional.

Jika pada tahun 1976 Satelit Palapa diluncurkan dan merupakan tonggak sejarah keberhasilan  menghubungkan kota-kota diseluruh Indonesia, kondisi ini merupakan terobosan teknologi komunikasi bagi Indonesia. Namun ternyata terobosan tersebut memiliki keterbatasan band widh, sehingga saat sekarang dirasakan fasilitas satelit tersebut kurang dapat memenuhi ledakan tuntutan kebutuhan berkomunikasi masyarakat yang terus berkembang secara dramatis. Sebagai jawabannya adalah menggelar serat optik bawah laut dengan nama proyek Palapa Ring (Ring Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusatenggara, Maluku dan Papua) seperti pada gambar dibawah.

Total panjang serat optik kabel laut yang akan digelar adalah 35.280 km dan 20.737 km kabel serat optik inland (di daratan), sedangkan kebutuhan investasi adalah sebesar 1.517 milyar dolar AS. Palapa Ring yang akan digelar merupakan jaringan serat optik pita  lebar berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 Gbps hingga 1.000 Gbps dipastikan dapat menjawab tuntutan masyarakat akan kebutuhan berkomunikasi. Trend komunikasi masyarakat  mengarah kepada komunikasi data dengan peningkatan sangat dramatis, sedangkan kebutuhan komunikasi voice/pembicaraan berkembang secara wajar. Trend perkembangan tersebut  tergambar dalam grafik dibawah ini. Kabel tembaga dengan volume yang besar hanya mampu melayani 300 sambungan telepon/internet, sedangkan serat optik dengan volume yang jauh lebih kecil tetapi mampu melayani 10 juta sambungan telepon/internet. Tingkat efisiensi antara kabel tembaga yang digunakan selama ini untuk keperluan telepon dengan serat optik juga terlihat pada gambar dibawah ini.

Perkembangan generasi terakhir Optical Fiber Cable System Technology for FTTH (fiber to the home) telah memperlihatkan betapa efisiennya sistem fiber optic ini untuk menjawab kebutuhan komunikasi bagi masyarakat dengan berbagai kebutuhan komunikasi.

Apabila diperhatikan trend perkembangan cara berkomunikasi masyarakat mengarah kepada komunikasi data, berarti fasilitas internet menjadi fasilitas pilihan yang digunakan oleh masyarakat untuk melaksanakan komunikasi sehari-hari. Fasilitas internet adalah jalinan/rangkaian berjuta-juta komputer yang terhubung dalam satu sistem komunikasi, dengan demikian sistem ini adalah sistem yang tidak mengenal batas wilayah dan Negara, semua komputer yang terjalin dalam rangkaian sistem internet dapat saling berkomunikasi. Kecepatan komunikasi akan sangat tergantung media yang digunakan dan kemampuan komputer yang digunakan.    Pada saat sekarang telah dimanfaatkan kabel tembaga, radio, satelit dan fiber optic untuk media komunikasi, namun fiber optic merupakan media komunikasi data/internet yang sangat efisien saat ini, disamping itu perkembangan teknologi komputer yang demikian maju pesat telah meningkatkan pula kemampuan komputer ribuan kali lipat dari komputer pada waktu awal ditemukan dengan volume yang semakin kecil. Dibawah ini divisualisasikan rangkaian komputer dalam satu jaringan internet dunia/global.

Komunikasi data dengan memanfaatkan fasilitas internet telah digunakan untuk kegiatan diberbagai bidang antara lain  perkantoran, bisnis, perbankkan, pemerintahan, pendidikan, berita bahkan bidang militer dll (e-commerce, e-banking, Internet Relay Chat, e-library, e-mail, e-news, e-goverment, e-book, blog, e-military, Video Teleconference, Radio/TV Broadcast dll masih banyak lagi). Dengan selesainya Proyek Palapa Ring nantinya, maka dapat memacu pertumbuhan, perkembangan, kemajuan dalam berbagai bidang diseluruh wilayah Indonesia, karena masyarakat dengan sangat mudah dan murah dapat mengakses dan memanfaatkan internet untuk keperluan berkomunikasi sehari-hari.

Palapa Ring Bermanfaat Untuk Pertahanan

Seperti bidang-bidang kehidupan lainnya, bidang pertahanan juga memerlukan sarana komunikasi yang cepat, akurat, handal dan aman dalam penyelengaraan/ pelaksanaan kegiatan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.   Disamping itu penyelenggara pertahanan juga berkepentingan dan berkewajiban untuk melindungi berbagai bidang kegiatan di dalam negeri terhadap ancaman dari luar, termasuk diantaranya kepentingan berkomunikasi bagi masyarakat di dalam negeri.    Berbagai kegiatan pertahanan negara yang memanfaatkan fasilitas berbasis internet (Transmission Control Protocol/Internet Protocol atau TCP/IP) antara lain :

  1. Kegiatan komunikasi bidang administrasi dan logistik (Adminlog). Pelaksanaan komunikasi bidang administrasi dan logistik sehari-hari di lingkungan Departemen Pertahanan dan seluruh jajarannya meliputi surat-menyurat dengan berbagai klasifikasi, telegram dan berbagai informasi lain dalam berbagai strata komando telah memanfaatkan fasilitas berbasis internet, meskipun masih dapat dan perlu dioptimalkan pemanfaatannya.    
  2. Kegiatan komunikasi bidang komando dan pengendalian (Kodal). Pelaksanaan komunikasi bidang Kodal dalam berbagai strata komando (taktik, operasional dan strategi serta grand strategy) memanfaatkan berbagai fasilitas antara lain, Radio (HF/VHF/UHF/SHF), Satelit dan fasilitas internet serta fasilitas lain sesuai dengan kebutuhan. Komunikasi Kodal memerlukan kecepatan, keakuratan, kehandalan dan keamanan, karena akan sangat menentukan keberhasilan operasi dan sekaligus keselamatan personel dan keamanan Alutsista.
  3. Kegiatan komunikasi bidang intelijen. Pelaksanaan komunikasi bidang intelijen yang meliputi pengumpulan data, penganalisaan, dan penyajian data hasil analisis dalam berbagai strata komando intelijen.
  4. Kegiatan komunikasi bidang surveillance. Pelaksanaan kegiatan pengawasan/pemantauan (surveillance) dilapangan dengan menggunakan berbagai peralatan sensor, sekaligus mengintegrasikan berbagai informasi dari berbagai sensor yang tergelar di lapangan.   Antara lain berbagai tipe sensor Radar (darat/pantai, pesawat, kapal/laut, satelit/base space), sensor monitor dan observasi (Monobs) komunikasi, direction finder (DF) komunikasi dan sensor-sensor lain yang terintegrasi dalam suatu sistem yang terpusat dalam pusat komando dan pengendalian.    Komunikasi dalam bidang pengawasan/pemantauan diperlukan kecepatan, keakuratan, kehandalan dan keamanan mengingat data yang dikirim secara terus-menerus selama kegiatan pementauan.    Pemanfaatan internet sangat membantu pelaksanaan kegiatan pementauan.
  5. Kegiatan komunikasi bidang reconnaissance. Kegiatan komunikasi bidang pengintaian (reconnaissance) diperlukan kecepatan pengiriman data, agar data tersebut tidak menjadi basi karena keterlambatan penyampaian.

Pemanfaatan komunikasi berbasis internet (TCP/IP) dalam pelaksanaan pertahanan Negara belum optimal, namun dapat diyakini setelah Proyek Palapa Ring selesai pemanfaatannya akan meningkat secara dramatis.     Sehingga pelaksanaan komunikasi bidang pertahanan Negara dalam bentuk komunikasi administrasi dan logistik (Adminlog), C4ISR (command, control, communications, computers, intelligence, surveillance, and reconnaissance) dalam berbagai strata komando (level taktik, operasional dan strategi serta grand strategy) memanfaatkan internet akan meningkat pula.    Penggunaan internet dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat adalah suatu hal yang sudah didepan mata, oleh karenanya beberapa hal yang perlu perhatian serius atas perkembangan ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pengamanan data penting untuk kegiatan pertahanan Negara yang dikirim dengan memanfaatkan fasilitas berbasis internet (TCP/IP).
  2. Mulai saat sekarang memikirkan bagaimana melindungi pengguna (pemerintah, pebisnis, masyarakat dalam berbagai komunitas) internet Indonesia yang telah merambah dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.
  3. Mengorganisir, menghimpun dan melatih kemampuan masyarakat pengguna internet dalam menghadapi era Cyber Warfare.    Karena dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi suatu Negara dapat melumpuhkan ekonomi  negara lain dengan melaksanakan Cyber Warfare dan memenangkannya.
  4. Mempersiapkan berbagai infrastruktur (hard ware and soft ware) untuk menghadapi era Cyber Warfare.   Departemen Pertahanan dan Departemen Kominfo sudah saatnya memikirkan pembangunan  infrastruktur super komputer (komputer berkecepatan super tinggi) dan memberdayakan potensi pengembangan soft ware (Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki potensi sumber daya manusia besar dalam bidang soft ware) untuk menghadapi era Cyber Warfare dan sekaligus menyiapkan infrastruktur Cyber Warfare Operations Center (CWOC).

Selesainya Proyek Palapa Ring akan menjadi pemicu dan pendorong kemajuan diberbagai bidang diseluruh wilayah NKRI termasuk bidang pertahanan negara, namun kerawanan-kerawanan yang akan timbul harus diantisipasi dan dihadapi, dengan mempersiapkan dan mengelola segala potensi yang ada, untuk semaksimal mungkin dapat mengantisipasi dan menghadapi era Cyber Warfare. Beberapa Negara maju telah melaksanakan latihan perang dunia maya/internet (Cyber Warfare Exercise), sebagai antisipasi menghadapi Cyber Warfare yang sebenarnya. Bahkan beberapa Negara telah melaksanakan dan mengalami Cyber Warfare secara terbatas, semua ini membuka cakrawala pandang kita semua bahwa era Cyber Warfare sudah di depan mata.  

Daftar Pustaka:

  1. Insentif Palapa Ring Rp 12 Triliun, http://www.detikinet.com/, Januari 2010.
  2. Internet,  http://id.wikipedia.org/, Januari  2010.
  3. Pembangunan Konfigurasi Palapa Ring Dimulai Dari Mataram, http://www.kapanlagi.com/,  Januari 2010.
  4. Proyek Palapa Ring Mataram Kupang Dimulai, http://www.antaranews.com/,  Januari 2010.
  5. Submarine-Cables And Internet Availability,  http://www.martin-english.com/, Januari 2010.
indraputra's picture

SETUJU TAPI BAGAIMANA DENGAN KEAMANAN DATA DAN KETERGANTUNGAN?

Kami sangat setuju penggunaan jaringan fiber optik yang berbasis IP (IP Base) memang sangat efesien dari sisi "hardware" , namun demikian perlu dipikirkan mengenai kerahasiaan dan keamanan data yang terkirim, seperti contoh PT.Telkom sendiri sudah menyediakan layanan Virtual Private Network Internet Protocol (VPN IP) dimana sistem transfer data berada dalam satu "cloud" dan tidak bercampur dengan pemakai umum, namun dari sisi kerahasiaan PT Telkom belum bisa menjamin 100 persen apabila ada "intruder" yang mencoba menyadap, apalagi sang intruder ini mempunyai akses ke orang "dalam" perusahaan tersebut (seperti kita ketahui kepemilikan perusahaan ini juga bukan murni milik Nasional), pertanyaannya adalah bagaimana dengan proyek PALAPA RING, apalagi apabila jaringan ini akan dipergunakan untuk kepentingan militer dengan kerahasiaan yang tinggi?
Selain itu tentunya harus kita dicermati bersama bahwa dalam pemanfaatannya perlu dipikirkan tambahan sistem penunjang berupa sistem keamanan berlapis yang bisa terintegrasi, contohnya pemasangan peralatan encryp/decryp (penyandian) dan firewall di tiap node koneksi.
Permasalahan lain yang timbul adalah timbulnya ketergantungan terhadap jaringan fiber yang tergelar, dimana jaringan ini sangat rentan dengan kondisi georafis dan faktor yang tidak dapat diprediksi seperti bencana alam, terutama gempa atas maupun bawah laut
(kalau tidak salah hal ini sempat membuat down sistem internet kawasan asia karena kabel FO di cina menglami masalah akibat gempa)
ini adalah sebuah solusi komunikasi yang sangat baik namun sementara bukan menjadikannya sebagai backbone (utama)komunikasi namun sebagai cadangan (backup)

Terima kasih untuk pencerahannya pak
salam
Indra putra Prajurit TNI AL

IP Security

Untuk IPV4 memang saat ini sudah sangat umum digunakan, namun untuk security nya sudah cukup baik. Apalagi nantinya kita akan bergeser ke IPv6. Itu baru di OSI Layer di IP, dan belum di level Application. Jadi memang cukup berlapis untuk security ini.
Seperti di VPN IP yang mempergunakan LABEL VRF didalamnya, yang bisa dikatakan tidak berbeda dengan penggunaan DLCI ( Logical Identifier ) pada FrameRelay atau ATM yang bermain di Layer Transportation. Ini pun sebenarnya sudah sebuah Security, karena tanpa match Calling-Called Address (NUA) maka Data Link tidak akan terbentuk. Contoh gampangnya seperti mac-address di setiap LAN Card, kita bisa mendaftarkan hanya beberapa mac-address tertentu untuk akses kesebuah server misalnya. Meski secara LAN mereka terhubung secara physically, belum lagi jika kita menerapkan penggunaan VLAN Ring (OSPF Area) dan DMZ Firewall kita aktifkan,Pemakaian IP NAT, ini semua tentunya akan meningkatkan kehandalan Jaringan. Jaringan ini memang tetap masih bisa di serang, namun disisi Outside nya saja dan bukan disisi Inside. Jadi itu artinya Recovery Jaringan paska penyerangan akan Cepat dan sempurna.
Sementara untuk Kontijensi Jaringan Backup, selain FiberOptic, tentu kita bisa mempergunakan VSAT atau pun jaringan WireLess/RadioLink secara teresterial. Namun seharusnya tidak hanya dengan jalan BackUp Jaringan saja, melainkan perlu juga dibuat sebuah DRC sebagai antisipasi Gangguan Data Center dari segala kondisi gangguan. Untuk VSAT/Satelit bisa mempergunakan Topologi VSAT Broadcast, sehingga Hirarki Redundancy bisa lebih mudah implementasinya.
Demikian pendapat, TerimaKasih Pak.

Salam,

Belantara