Biography

salim's picture

Jiwa Navalisme Laksamana Muda John Lie

Oleh: Mayor (P) Salim, Komandan KRI Untung Suropati - 872, Anggota Dewan Penasehat Harian TANDEF

"Jangan menjadikan bangsa ini menjadi jongos di negara lain, jongos di kapal-kapal niaga asing...Jadilah bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut, menandingi irama gelombang lautan itu sendiri." (Presiden Soekarno)

Sayangnya, ucapan dan visi navalisme Bung Karno tersebut kandas membentur karang samudera pada masa pemerintahan Presiden selanjutnya yaitu Soeharto yang ketika melantik Kasal di awal 70-an berkata, "Indonesia membutuhkan AL yang kuat, tapi nanti."

Pertanyaanya, nantinya itu kapan? Tenggelamnya visi navalisme ini turut berkontribusi pada lemahnya kondisi kekuatan laut kita dewasa ini. Salah satu cara untuk menggerogoti Angkatan Laut adalah tidak memperkenalkan pahlawan-pahlawan bangsa yang berjuang di samudera. Wajar saja apabila bangsa ini ditanya siapa pahlawan dari Angkatan Laut, maka mulai dari anak SD, SMP hingga SMA akan menjawab hanya satu orang saja, yakni Komodor Yos Soedarso. Adakah yang kenal Wiratno, Memet Sastra Wirya, Sutedi Senodiputra, puluhan atau bahkan ratusan pahlawan Angkatan Laut lainnya?

kazmi's picture

Mengenang Jenderal Besar A.H. Nasution

Oleh: Khairil Azmi, B.Eng., M.IScT., Direktur Eksekutif TANDEF


Adalah merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia, bahwa bangsa ini pernah dikaruniai seorang putra bangsa sekaliber almarhum Pak Nas, seorang Jenderal yang sangat lurus dan bersahaja. Kebetulan sekali, besok, 3 Desember adalah ulang tahun beliau. Di sela-sela kesibukan kita, dimana kita semakin tidak hirau akan perjuangan pendahulu-pendahulu kita, ada baiknya apabila momen ini kita manfaatkan untuk dapat sedikit mengenali lebih dekat sosok beliau, menyimak nasehat-nasehat beliau sebagai salah seorang sepuh bangsa yang telah banyak berkorban bagi bangsa & negara. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa beliau merupakan salah satu peletak dasar-dasar pembentukan TNI, khususnya TNI AD. Beliau juga merupakan sosok pemikir sejati, dimana buku beliau yang fenomenal, yakni “Pokok-Pokok Perang Gerilya” (Fundamentals of Guerilla Warfare) telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi bacaan wajib di banyak akademi militer di berbagai belahan dunia.

wicaksono's picture

David Stirling

Oleh: Wicaksono Aji, ST., Direktur TANDEF

"These men are highly dangerous … they must be ruthlessly exterminated." Demikian instruksi Adolf Hitler pada tahun 1944. Yang dimaksud "dangerous men" adalah para serdadu Special Air Service (SAS) bentukan David Stirling pada tahun 1941 di Afrika Utara.

Pada kurun waktu 1940-1943 medan pertempuran Perang Dunia II di Afrika Utara banyak mengambil tempat di sepanjang garis pantai yang sempit, memanjang antara Tunisia hingga Kairo. Di bagian selatan garis pantai tersebut terdapat Gurun Sahara yang terik. Kebanyakan perwira militer dari kedua belah pihak -Blok Sekutu maupun Blok As- tidak melihat keberadaan gurun ini sebagai sebuah ancaman, ataupun peluang untuk menggempur kekuatan lawan.

Namun rupanya ada seorang Letnan Dua angkatan perang Inggris yang melihatnya sebagai sebuah peluang untuk melakukan penetrasi kekuatan lawan. Dia berpendapat bahwa sebuah satuan tempur yang "unik" perlu dibentuk, dengan kemampuan melakukan penyerangan secara taktis, cepat, dan langsung ke sasaran, dan segera menghilang di hamparan Gurun Sahara. Perwira tersebut adalah Letnan Dua David Stirling.