BSO Ikastara

Home » Uncategorized » Memperingati 6 tahun Latihan Bersama Garuda Shield (2007-2012): Lesson Learn pelatihan Interoperability dan Interagency melalui Command Post Exercise Garuda Shield

Memperingati 6 tahun Latihan Bersama Garuda Shield (2007-2012): Lesson Learn pelatihan Interoperability dan Interagency melalui Command Post Exercise Garuda Shield

 Latihan Bersama Garuda Shield adalah latihan bersama antar negara yang diselenggarakan oleh host Nations Indonesia khususnya TNI dengan konteks peacekeeping operations yang telah dimulai sejak tahun 2007 yang lalu. Latihan ini merupakan salah satu bagian dari program GPOI (Global Peacekeeping Operation Initiative) di kawasan Asia Pasifik dalam rangka menyiapkan personel militer yang memenuhi standar untuk penugasan Misi PBB di seluruh dunia.

Pada tahun 2012 ini, dalam penyelenggaraannya yang keenam telah banyak hal-hal yang dapat dipetik oleh TNI baik itu dalam sistem penyelenggaraan latihan berskala internasional, doktrin dalam pengambilan keputusan maupun kerja sama militer internasional (interoperability) dan kerja sama sipil militer dalam hubungan organisasi internasional (interagency). Selain itu latihan ini telah mencetak banyak prajurit yang memenuhi standar penugasan PBB, mulai dari level Perwira Tinggi sebagai Force Commander, Perwira Menengah sebagai Sector Commander dan Stafnya, maupun Perwira Pertama sebagai staf dalam misi PBB. Ditambah ribuan prajurit yang telah mengikuti FTX (Field Training Exercise) dianggap mampu dan layak melaksanakan tugas di medan penugasan PBB yang sebenarnya.

Mencermati potensi yang sedemikian besar dari output latihan ini bagi pengembangan karier perwira TNI ke depan baik itu di karier kemiliteran maupun di penugasan PBB serta bagi pengembangan doktrin latihan dan pengambilan keputusan untuk institusi TNI sendiri maka penulis selaku penyelenggara Latihan Garuda Shield merasa perlu menyusun suatu tulisan tentang Lesson Learn atau pelajaran yang dapat dipetik dari pelaksanaan latihan Garuda Shield yang telah dilaksanakan selama 6 tahun sebanyak 6 kali secara terpadu dan sistematis.

Naskah ini dibuat dengan maksud sebagai media penyaluran gagasan pikiran tentang pembuatan lesson learn hasil pelaksanaan 6 tahun Latihan Garuda Shield, Naskah ini disusun dengan tujuan agar dapat dijadikan  sebagai  salah  satu  bahan  pertimbangan  oleh  pimpinan  TNI dalam  menentukan kebijakan pengembangan potensi yang sedemikian besarnya dari output latihan baik itu personel yang telah dilatih maupun doktrin latihan dan pengambilan keputusan yang telah diperoleh agar dapat dimanfaatkan sebesar besarnya bagi kepentingan TNI khususnya.

Latar Belakang

Pada mulanya Latihan Garuda Shield sendiri merupakan salah satu program GPOI (Global Peacekeeping Operation Initiative) yang disponsori oleh negara-negara G-8 bagi peningkatan kapasitas operasi penyelenggaraan perdamaian dunia bagi negara-negara TCC (Troops Contributing Country), negara yang menjadi penyumbang pasukan perdamaian dunia, di kawasan Asia Pasifik. Program ini dilaksanakan dalam rangka pemenuhan permintaan United Nations karena kurangnya personel militer dan polisi yang dibutuhkan untuk melaksanakan operasi perdamaian dunia serta kurangnya Satuan yang memenuhi standar kualifikasi PBB, STGM (Standard Generic Training Module).

Perlu diketahui bahwa saat ini terdapat beberapa latihan GPOI di Asia Pasifik, seperti Cobra Gold di Thailand, Shanti Doot di Bangladesh, Khan Quest di Neppal, Keris Strike di Malaysia dan khusus di Indonesia latihan tersebut diberi nama dengan sandi, code name, operation “GARUDA SHIELD”. Untuk kawasan Asia Pasifik sendiri, latihan GPOI seluruhnya berada dibawah supervisi USPACOM (United States Pacific Command), dan khusus latihan antar Angkatan Darat diselenggarakan oleh USARPAC (United States Army Pacific).

Sejarah latihan Garuda Shield bermula dari kerjasama bilateral antara TNI-AD dan USPACOM melalui forum USIBDD (United States Indonesia Bilateral Defence Discussion) pada tahun 2006, pada saat itulah tercetus permintaan dari TNI AD agar Indonesia memiliki latihan dalam rangka melatih calon-calon pasukan yang akan terlibat dalam kontingan Garuda dengan materi sesuai SGTM sebelum diberangkatkan ke Misi PBB yang sebenarnya.

Sehingga pada tahun 2007 diselenggarakanlah Garuda Shield 01/07 yang berada di Madiv 1,Kostrad, Cilodong dengan materi CPX (Command Post Exercise), Geladi Posko setingkat Brigade gabungan yang beroperasi dalam tingkat staf Sector misi PBB. Dengan kesuksesan Garuda Shield 01/07 maka pada tahun berikutnya Garuda Shield 02/08 diselenggarakan oleh Kodam Jaya tepatnya di Hotel Borobudur dengan materi yang sama setingkat Brigade pada Sector Misi.

Perlu diketahui dalam satu tahun USPACOM melaksanakan seluruh latihan GPOI di berbagai negara seluruh kawasan Asia Pasifik dan memilih salah satu latihan sebagai latihan puncak yang dinamakan Capstone. Garuda Shield 03/09 yang lalu merupakan even Capstone, latihan puncak di kawasan Asia Pasifik, sehingga kerjasama bukan lagi bilateral namun menjadi multilateral dengan melibatkan 22 negara. Penyelenggara dari pihak TNI adalah Mabes TNI. Materi yang dilatihkanpun berbeda dengan dua latihan Garuda Shield sebelumnya. Ada tambahan materi Field Training Exercise (FTX), yakni latihan drill teknis setingkat peleton. Untuk CPX Garuda Shield 03/09 diselenggarakan di Hotel Mason Pine Padalarang Bandung dengan materi 1 tingkat lebih tinggi yakni pada level United Nations Force HQUNFHQ sedangkan FTX dilaksanakan di Cipatat.

Untuk Garuda Shield 04/10 yang diselenggarakan tahun 2010 kemarin, penyelengaraan dikembalikan ke TNI AD, tepatnya diselenggarakan oleh Kodiklat TNI AD dan pelaksanaan CPX hanya bersifat bilateral antara Indonesia Amerika. Adapun untuk materi CPX diturunkan 1 tingkat lebih rendah, kembali seperti awal pelaksanaan Garuda Shield yakni Misi PBB setingkat Sector Misi dan pelaksanaannya bertempat di Hotel Mason Pine Padalarang Bandung. Sedangkan FTX, dilaksanakan di Pusdikif Cipatat atau yang lebih dikenal Infantry Training Center dengan melibatkan 5 negara sebagai peserta latihan. Juga pada Garuda Shield 04/10 mulai diadakan CIMIC (Civil Military Corrdinations)/ HCA (Humanitarian Civic Action) programs diantaranya program ENCAP (Enginering Civic Actions Programs) yang mana konsep dasarnya mirip seperti TMMD (TNI Manunggal Masuk Desa) dan MEDCAP (Medical Civic Actions Programs) yang mirip program pengobatan massal.

Tahun 2011, pelaksanaan CPX Garuda Shield 05/11 dilaksanakan berbeda tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang mana pelaksanaan CPX dilakukan di hotel. Pada tahun kemarin latihan dilaksanakan di kompleks militer tepatnya di Pusdikzi, Bogor. Hal ini dikarenakan GPOI tidak lagi memberikan bantuan dana, sehingga mulai tahun 2011 program ini hanya dibiayai oleh kedua belah pihak saja, USARPAC dan TNI.  Perubahan tersebut membuat konsep latihan ini kembali ke konsep asal yakni latihan bilateral Indonesia – Amerika antara TNI AD dan USARPAC.  Adapun yang berbeda pada materi CPX yakni penambahan pelaku setingkat Batalyon sebagai Player dalam rangka penyiapan unsur inti Satgas UNIFIL yang akan bertugas di Libanon pada tahun tersebut. Sehingga pada tahun tersebut ada dua tingkat yang dikendalikan, yakni pada level Brigade (Sector Level) dan level Batalyon (Battalion Level). Untuk progam FTX dan HCA tetap dilaksakan seperti tahun sebelumnya.

Tahun keenam pelaksanaan Garuda Shield kali ini dilaksanakan di Malang dengan penyelenggara Divif 2 Kostrad. Tahun ini dilaksanakan tetap di kompleks militer tepatnya PLDC (Patriot Leadership Development Center), Pusdik Belanegara, Rindam V Brawijaya. Konsep CPX dikembalikan ke konsep asal yakni hanya 1 tingkat saja, level Brigade (Sector Level). Untuk progam FTX dan HCA tetap dilaksakan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Penyiapan Latihan Bersama Antar Negara

Latihan besar berskala internasional seperti halnya Garuda Shield, membutuhkan kesepahaman oleh tiap negara yang terlibat dan perencanaan yang matang. Ada beberapa tahapan dalam menyiapkan latihan Garuda Shield, yakni :

PPE (Pre Planning Exercise).  

Adalah pertemuan singkat setelah latihan selesai untuk membahas latihan tahun depannya. Ini adalah awal (core) dari latihan yang akan dilaksanakan tahun depannya. Pertemuan ini diwakili oleh perwakilan tiap-tiap negara yang terlibat. Isi pertemuan lebih membahas time table kapan dilaksanakan IPC, FPC dan latihan itu sendiri, jenis latihan apa yang akan dilakukan dan menentukan draft awal agenda IPC tahun depannya.

IPC (Initial Planning Conference).  

Merupakan pertemuan awal para penyelenggara latihan dari seluruh negara terlibat untuk membahas :

  • Konsep Operasi tiap-tiap materi, baik CPX, FTX maupun HCA.
  • Membuat konsep CESG (Combined Exercise Support Group), yakni kelompok gabungan pendukung latihan antar kedua negara.
  • Membuat struktur komando dan pengendali untuk tiap-tiap materi baik CPX, FTX maupun HCA.
  • Menentukan jadwal latihan.
  • Menentukan negara mana saja yang terlibat latihan.
  • Melaksanakan Site Surveys, dan mencatat kebutuhan yang diperlukan dalam pelaksanaan latihan.
  • Menentukan kebutuhan Life Support dan membuat rencana sementara (Draft Plans)
  • Menentukan kebutuhan pengaman latihan.
  • Menentukan Draft kebutuhan dana latihan.
  • Membuat kebutuhan kontrak dan rencana sementara dukungan latihan.

Biasanya akhir pelaksanaan rapat dicapai kesepakatan awal tentang tabel waktu pelaksanaan latihan, dan sisanya berupa draft awal penyelenggaraan latihan. Seluruh draft tersebut merupakan hal-hal yang harus disinergikan selama kurun waktu beberapa bulan sebelum pelaksanaan rapat FPC mendatang.

SDW (Scenario Development Workshop). 

SDW  dilaksanakan selama dua minggu.Ini merupakan tahapan yang dilakukan apabila kedua negara menginginkan perubahan besar dalam skenario latihan. Selama ini, SDW baru sekali dilaksanakan yakni ketika staf perancang geladi Indonesia dan Amerika menginginkan suatu perubahan signifikan pada skenario dan MSEL di latihan Garuda Shield yang kedua.

Suasana SDW pada persiapan Garuda Shield 2/08 di USPACOM Hawaii

 FPC (Final Planning Conference)             

Adalah rapat akhir antara host nations (negara penyelenggara latihan)  dan negara sahabat yang akan terlibat latihan. Pada rapat FPC biasanya akan dicapai kesepakatan tentang hal-hal yang belum disepakati pada rapat sebelumnya, diantaranya adalah :

  • Finalize Exercise Activities, Locations, Unit Participation
  • Finalize Exercise Goals, And Objectives
  • Confirm Milestones & Way Ahead
  • Confirm Participating Countries for FTX
  • Finalize Exercise Timelines (Force Flow & Facilities Stand Up)
  • Finalize CONOP & Joint Manning Document
  • Command Post Exercise
  • Field Training Exercise (FTX)
  • Humanitarian Civic Action (HCA) CONOPS
  • Finalize Exercise Command And Control Plan (Structure, Facilities, Reports)
  • Finalize Exercise Transportation & Fuel Plan (Reception, Exercise, Departure)
  • Finalize Customs & Visa Requirements / Procedures
  • Finalize Exercise Administrative Support Plan (Copiers, Supplies, Printers)
  • Finalize Exercise Physical Security Plan (Force Protection)
  • Finalize Exercise Communications Plan (Voice, Data, Networking, Info Mgmt) 
  • Schematic Diagram
  • Facility Capability Requirements
  • Packing and Shipping of Equipment
  • Laptop Requirements and Personnel Support Requirements
  • Power Support Requirements
  • Finalize Life Support Plan for FTX, CPX, and HCA
  • Food Service and Water Plan
  • Sanitation and Refuse Plan
  • Finalize Exercise Service Support Synch Matrix
  • Finalize Contracting Requirements & Contract Status
  • Finalize Ceremonies & Gift Exchange Plan (FTX, CPX, HCA)
  • DV Visits
  • Itineraries
  • Support Requirements
  • Schedule
    • Opening and Closing Ceremonies, HCA Dedication, and Closing Dinner
    • Sequence of Events
    • Senior Guest Nations and Host Nations Speech Presenters
    • Seating Chart
    • Programs
    • Invitations
    • Official Photo
    • Press Interview
    • Gift Exchange Plan
    • Cultural Day
    • Finalize Exercise Budget (FTX, CPX, and HCA)
    • Finalize Medical Support & Evacuation Plan (FTX, CPX, and HCA)
    • Finalize Moral, Welfare & Recreation Plan
    • Finalize Public Affairs & Media Plan
    • Identify Host Nations Rules & Behavior Standards (HN Expectations)
    • Confirm Exercise Joining Instructions
    • Finalize Detailed Concept Briefing

Pre Exercise

Dikenal dengan Pra Latihan, merupakan tahapan bagi pelaku dari Indonesia dalam rangka familiarisasi doktrin dan materi. Ini diluar proses perencanaan antara kedua negara, namun ini adalah tahapan tersendiri khusus bagi TNI sebelum pelaksanaan latihan agar latihan dapat berjalan dengan baik. Materi Pra-lat merupakan materi yang akan dilatihkan dalam CPX dan diajarkan oleh pelatih yang telah mendapatkan sertifikat kepelatihan dari PBB, yakni lulusan UNMO (United Nations Military Observer) Course, UNSOC (United Nations Staff Officer Course), atau T3 Course (Train The Trainers Course). Pre exercise biasanya dilaksanakan selama 1 minggu adapun materi yang diajarkan 75% fokus kepada proses pengambilan keputusan komandan atau yang dikenal dengan nama MDMP (Military Decision Making Process).

Suasana Pra-Lat pada Garuda Shield 04/10 di Pusdikkav Bandung

 Penyelenggaraan Latihan Bersama

Pada dasarnya, penyelenggaraan latihan bersama sekelas Garuda Shield merupakan penyelenggaraan gabungan antar dua negara sahabat yang mana negara Host Nations (Indonesia) merupakan negara tuan rumah sedangkan negara lainnya adalah negara tamu sehingga seluruh bagian staf penyelenggara latihan merupakan staf gabungan / Combined Staff  antar dua negara.

Struktur Organisasi Latihan Garuda Shield 3/09

  1. Penyelenggara Latihan Dalam penyelenggaraan latihan, menggunakan format latihan gabungan, yang merupakan perpaduan (mixed) antara sistem penyelenggaraan latihan US dan TNI. Disini ada beberapa istilah baru yang dikenalkan diantaranya adalah :
    1. CECG (Combined Executive Control Group).    Merupakan gabungan kelompok eksekutif kedua negara yang mengendalikan jalannya latihan. Pada latihan Garuda Shield, struktur CECG terdiri dari Direktur Geladi Gabungan (Co-Exercise Director), beserta stafnya, ditambah para koordinator masing masing materi seperti CPX, FTX dan HCA. Dalam CPX sendiri, CECG dalam CPX biasanya disebut CPX EXCON atau Exercise Control yang terdiri dari beberapa komponen :
      1. Koordinator CPX biasanya disebut dengan Senior Control, biasanya dijabat oleh seorang Pamen Senior berpangkat Letkol. Tugasnya adalah memimpin pengendalian jalannya geladi posko (CPX) mulai dari tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan sampai tahap evaluasi pelaksanaan latihan. Pada Garuda Shield 1, 2 dan 3, senior control dijabat oleh Letkol Inf Karmin Suharna dan Steve Scholwalter. Digantikan oleh Letkol Inf Taufan Gestoro pada Garuda Shield 4 dan 5 dan terakhir pada Garuda Shield 6 ini dijabat oleh Letkol Inf Deidy Aprias Sahri bersama Scott.

        Senior Control, Senior Mentor dan MSEL Manager pada Garuda Shield 03/09
      2. Senior Mentor, merupakan mentor senior yang bertugas memberi mentoring atau bimbingan tehnis kepada Komandan Pelaku CPX. Tidak semua Garuda Shield menggunakan senior mentor, hanya Garuda Shield 1, 2 dan 3 saja, selebihnya tidak ada. Pada saat Garuda Shield 1 dan 2 mentoring diberikan oleh Kolonel Arh Junias L. Tobing sedangkan pada Garuda Shield 03/09, pihak USARPAC mengundang Liutenat General (retired) Montgomery (mantan Force Comander UNSOCOM / misi PBB di Somalia) sebagai senior mentor bagi Mayjen TNI Zahari Siregar yang pada saat itu menjabat sebagai Force Commander Latihan Garuda Shield 03/09. Pemberian jabatan senior mentor dalam latihan merupakan penghargaan atas profesionalisme purnawirawan sewaktu masa dinas yang bersangkutan sekaligus transef ilmu kepemimpinan dan pengalaman bagi pejabat tinggi yang akan memimpin suatu misi/ operasi dalam skala operasional
      3. MSEL Manager, merupakan tangan kanan dari senior control untuk mengendalikan MSEL (Master Scenario Event List) atau RIG (Rencana Informasi Geladi), alat kendali dalam pelaksanaan geladi posko. MSEL disinkronkan dalam briefing pagi pengendali (morning huddle) dan briefing siang pengendali (MSEL Synch brief) agar tidak ada tumpang tindih pelemparan RIG sehingga tujuan dan sasaran latihan dapat tercapai. Saya sendiri sudah menjadi MSEL manager semenjak Garuda Shield 3 hingga ke 5.

        Contoh MSEL yang menjadi dasar pengendalian latihan CPX

      4. Sitfor Commander. Adalah pimpinan dari Sitfor. Sitfor merupakan singkatan dari Situation Force atau yang dikenal dengan Bulsi (Penimbul Situasi) dalam terminologi TNI. Sedangkan dalam terminologi US, Sitfor merupakan Opfor (oppossing force) atau black cell. Tugasnya adalah menciptakan situasi sehingga tercipta realisme latihan. Penciptaan situasi dilakukan dengan cara role play sebagai Sitfor Military atau elemen militer yang menjadi oposisi dari kelompok pelaku dan menjadi Sitfor Civilian atau oposisi dari elemen sipil. Penggunaan Sitfor akan membuat proses negosiasi menjadi lebih hidup, biasanya setelah pelaksanaan negosiasi langsung dilakukan hotwash atau evaluasi sehingga pejabat yang melaksanakan negosiasi mendapatkan lesson learn atau mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Pada Garuda Shield 6 ini saya mendapat kehormatan menjadi Perwira TNI yang pertama kali menjabat di Exercise Controller sebagai Sitfor Commander.

        Situasi body searching oleh military guards yang diperankan SITFOR pada Garuda Shield 06/12

      5. White cell. White cell memainkan secara role player partner sipil satuan samping dari pelaku latihan, tugasnya menciptakan realisme latihan interagency, koordinasi antara sipil dan militer didalam konteks operasi misi perdamaian PBB, diantaranya adalah :
        1. Humanitarian Agency. Memainkan kelompok yang mengurusi bantuan kemanusiaan seperti ICRC (International Commite Red Cross) atau PMI, IO (International Organisation) dan NGO (Non Govermental Organisation) atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) beserta kantor koordinasinya yang bernama OCHA (Office Coordinator Humanitarian Affairs).
        2. UN Agency. Memainkan organisasi yang bernaung dibawah PBB seperti WHO, UNDP, UNICEF beserta kepala koordinatornya yang bernama CA COORD (Civil Affairs Coordinator)
        3. Atau yang biasa disebut United Nations Police. Merupakan komponen polisi yang ditugaskan oleh PBB. dalam suatu misi untuk memberikan asistensi pada polisi lokal dikarenakan ketidak mampuan mereka melaksanakan tugas tugas polisionil.
        4. Memerankan media yang ada dalam Ooperasi PBB, baik itu media massa, jejaring sosial maupun media elektronik.  Melatih kemampuan public relations Komandan Misi merupakan tugas utama unsur media dalam latihan ini. Tehnik yang dilakukan diantaranya bagaimana menyelenggarakan Press Conference dengan baik, bagaimana efek  wawancara sehari akan mengubah persepsi masyarakat (baik atau buruk) sehingga berpengaruh pada kelangsungan seluruh misi, dll.
      6. AAR Team. Kepanjangan dari after action review (AAR) yang berarti evaluasi. Tim ini bertugas menyelenggarakan evaluasi langsung setelah pelaksanaan latihan atau yang disebut hotwash dan evaluasi keseluruhan penyelenggaraan latihan. Tim ini difasilitasi oleh Senior Control dan SME selama 20 – 30 menit.

        Tim AAR sedang berdiskusi dengan SME sebelum Hotwash

      7. SME Team. SME kepanjangan dari Subject Matter Fxpert artinya kumpulan orang – orang yang ahli dibidangnya. Mereka merupakan pensiunan anggota militer yang pernah ikut dalam misi PBB dan berasal dari seluruh dunia. Kedudukan mereka ada pada CECG/ Excon. Mereka dapat berperan sebagai Black Cell atau Sitfor maupun White Cell seperti Humanitarian, UNPOL, UN Agency , Media Fungsi mereka mengatasi kendala kurangnya SDM di tubuh militer itu sendiri yang mengerti mekanisme latihan dan materi latihan. Seperti kata pepatah, berikan suatu pekerjaan pada seseorang yang ahli pada bidangnya.

        Organisasi Pengendali Latihan CPX Garuda Shield 06/12
        Bagi kelompok pengendali (CECG), sinkronisasi adalah hal utama. Seperti memainkan sebuah orkestra, keharmonisan skenario dan jalan cerita yang dikendalikan melalui MSEL adalah hal yang utama. Perubahan di salah satu bagian akan berdampak ke bagian lainnya dan keseluruhan jalannya latihan maka di dalam kelompok CECG sendiri ada yang dinamakan Morning Huddle dan Syncronization Meeting.

        Suasana Syncronization meeting pada Garuda Shield 04/10

        1. Morning Huddle. Adalah briefing yang dilakukan pada pagi hari, sebelum pelaksanaan latihan (pukul 08.00 s.d 08.30). Pada briefing pagi ini, dilakukan sinkronisasi MSEL yang akan dilepas pada pagi sampai dengan siang. Segala macam perubahan harus mendapat persetujuan dari senior control.
        2. Syncronization Meeting. Adalah briefing yang dilakukan pada siang hari (pukul 13.30 – 14.00). Pada briefing siang, dilakukan pengecekan MSEL yang telah dilepas pagi harinya, sinkronisasi antara AAR team dan SME serta persiapan untuk MSEL yang akan dikeluarkan esoknya.
    2. CESG (Combined Exercise Support Group).     Merupakan gabungan kelompok pendukung latihan kedua negara. Pada tahap perencanaan dan persiapan kelompok ini bekerja secara parsiil dan mensinkronisasikan serta melaporkan hasil kerjanya kepada Exercise Director masing-masing negara pada tahap IPC dan FPC. Pada tahap pelaksanaan, CESG berkedudukan di CTOC berubah fungsi menjadi Staf Co-Exercise Director. Struktur CESG terdiri dari Kepala gabungan tim pendukung beserta timnya diantaranya adalah :
      1. IT and Communication network (Komunikasi).
      2. Security (Pengamanan).
      3. Transportation (Transportasi)
      4. Ceremony and Event (Protokoler).
      5. Logistic General Support & Budgeting (Logistik).
      6. Public Affairs & Media (Humas).
    3. CTOC (Combined Training Operation Center).   Kelompok yang merupakan peleburan dari CECG dan CESG ini berdiri setelah latihan dimulai. CTOC adalah pusat kendali latihan gabungan yang terdiri dari Direktur Geladi Gabungan (Co-Exercise Director) yang bertugas memimpin sebuah Pusat Komando Latihan Gabungan (Puskolatgab) / Combined Training Operation Center (CTOC) beserta staf latihan kedua negara (combined staf) yakni :

      Struktur Organisasi CTOC pada Latma Garuda Shield 06/12

      1. C1 Personnel. Adalah leburan dari kelompok Ceremony and Event (protokoler) dari CESG yang bertugas :
        1. Menyiapkan personel-personel  yang  diperlukan  untuk  event latihan.
        2. Mengurus kebutuhan personel (pelaku, penyelenggara dan pendukung), urusan  dalam   dan   protokoler (upacara dan Distinguish Visitor (DV) / tamu VIP).
      2. C2 Security. Adalah leburan dari tim security dari CESG tugasnya adalah :
        1. Menyusun, memelihara   dan   menjaga   keamanan   selama latihan berlangsung baik selama waktu latihan maupun diluar waktu latihan.
        2. Selalu mengupdate data-data yang berhubungan dengan bidang pengamanan.
      3. C3 Operations. Adalah staf operasi Dirgla yang bertugas :
        1. Menyusun jadwal  perencanaan (exercise timeline & battle rhytm)  dan  rencana  Latihan  dalam  garis
        2. Memelihara keseimbangan operasi latihan.
        3. Memelihara Battle Rhytm setiap harinya.
        4. Menyiapkan Commander Update Brief setiap harinya.
      4. C4 Logistic. Merupakan peleburan dari tim Logistic General Support & Budgeting tugasnya adalah :
        1. Menyiapkan bekal logistik (kelas 1, 3 dan 5)  yang  diperlukan  untuk
        2. Mengurus bidang persenjataan, peralatan, angkutan , pembekalan dan pemeliharaan.
        3. Mengurusi masalah dukungan dana dari masing-masing.
      5. C5 CMO (Civil Military Operations). Staf teritorial yang bertugas :
        1. Mengurusi masalah hubungan militer dengan sipil di daerah latihan terutama dalam kegiatan HCA.
        2. Bekerjasama dengan media berkaitan dengan pencitraan
        3. Membangun relasi dengan masyarakat.
      6. C6 Communications. Merupakan leburan dari tim IT and Communication Networks support CESG, tugasnya adalah :
        1. Memberikan dukungan mengenai networking dalam latihan, penyiapan LAN, telepon, C2PC (Command Control Personal Computer), teleconference,dll
        2. Menyiapkan dukungan komunikasi radio bagi sesama penyelenggara latihan.
      7. Special Staff. Adalah staf khusus Dirgla yang terdiri dari beberapa unsur
        1. JAG (Judge Advocate General) / Perwira Hukum. Mengurusi hal hal yang berkaitan dengan aspek legalitas.
        2. Medic / Pa Kesehatan. Mengurusi kebutuhan personel yang berhubungan dengan masalah evakuasi medis.
        3. PAO (Public Affairs Officer). Mengurusi halhal yang berhubungan dengan media atau press release.
        4. Chaplain / Pa rohani. Mengurusi hal hal yang berkaitan dengan masalah pembinaan mental.
      8. Secretariat. Terdiri dari ADC (Aide de` Camp) atau ajudan Dirgla dan Penerjemah Dirgla dari kedua negara.
  2. Peserta Latihan. Dasar penyusunan organisasi peserta latihan tergantung dari skenario latihan yang digunakan. Pada latihan Garuda Shield, setting tempat latihan menggunakan setting sub benua fiktif Pasifica yang merupakan copy paste dari salah satu negara bagian Amerika Serikat.

    Setting Strategis Latma Garuda Shield 06/12
    Di sana terdapat 6 negara fiktif yang diantaranya ada sebuah negara yang sedang tertimpa konflik sehingga berpotensi menjadi negara gagal (failed state). Negara tersebut bernama Mojave. Karena hal tersebut maka Dewan Keamanan PBB (United Nations Security Council/UNSCR) mengeluarkan sebuah resolusi sebagai dasar berdirinya sebuah misi PBB di Pasifica yang bernama UNMIP (United Mission in Pasifica). Struktur UNMIP inilah yang menjadi dasar penyusunan peserta latihan.

    Perserta Latihan pada Academic Seminar Latma Garuda Shield 03/09

    Kedudukan masing-masing bagian dalam Skenario UNMIP Garuda Shield 06/12

    Peserta latihan dibagi menjadi dua, yakni pelaku latihan (player) itu sendiri dan Secondary Training Audience yang terdiri dari unsur pengendali atas (hi controller) dan pengendali bawah (low controller). 

    1. Primary Training Audience (Player). Terdri dari unsur Kelompok Komando Brigade Gabungan yang beroperasi pada tingkat Sector.

      Struktur Staf Brigade Gabungan pada Latma Garuda Shield

      1. Bde Commander. Merupakan unsur utama yang dilatih dalam latihan ini. Harapannya setelah pelaksanaan latihan ini maka Indonesia akan memiliki perwira yang memiliki kualifikasi sebagai Komandan / Sector Commander pada misi PBB yang sebenarnya. Perlu diketahui bahwa saat ini latihan Garuda Shield telah mencetak 5 orang perwira menengah setingkat kolonel yang memiliki kualifikasi sebagai Sector Commander dan 1 orang Mayor Jenderal yang memiliki kualifikasi sebagai Force Commander (Garuda Shield-03/09).

        Kolonel Inf A.M Putranto sebagai BDE Commander pada Garuda Shield 04/10

      2. Staff Exercise. Staf dalam latihan ini dipimpin oleh seorang Kepala Staf yang biasa disebut XO (Executive Officer). XO bertugas mengkoordinir Staf yang berada pada TOC (Tactical Operation Center). Pada dasarnya struktur dan fungsi staf antara Indonesia dan Amerika adalah sama, namun penomerannya yang agak berbeda. Staf 1 (TNI) adalah Intel namun Staf 1 (US) adalah Personel, Staf 2 (TNI) adalah Operasi namun Staf 2 (US) adalah Intel, Staf 3 (TNI) adalah Personel namun Staf 3 (US) adalah Operasi, sedangkan penomoran staf yang lainnya adalah sama. Pembagian kerja staf itu sendiri dari 2 bagian besar yakni current ops dan future ops, misalnya staf ops S3 dia mempunyai S3 current ops dan S3 future ops, demikian pula dengan staf intel dan log.
        1. Current Ops. Yakni staf yang mengurusi masalah operasional pada 24 jam hari itu (Battle Rhytm). Apabila ada suatu kendala di hari itu dan membutuhkan tindakan segera maka staf yang berkaitan dengan current ops akan membereskan sesuai dengan fungsinya masing-masing.

          Situasi kesibukan di TOC oleh Current Ops

        2. Future Ops. Yakni kelompok staf yang mengurusi perencanaan operasi ke depannya diantaranya adalah proses pengambilan keputusan / Military Decision Making Process (MDMP), pembuatan Perintah Operasi / Operation Order (OPORD) dan Perintah Parsiil / Warning Order  (Warno)

          Kesibukan di Future Ops dalam mekanisme MDMP pembuatan FRAGO

          Dalam sejarah latihan Garuda Shield, pernah dicobakan pelaku 2 tingkat yakni pada level Brigade dan level Batalyon yakni pada Garuda Shield 05/11. Pada saat itu pada level Batalyon dicoba dilatihkan unsur Mako Yonif L 502/Kostrad, satuan inti yang akan berangkat ke Libanon pada misi UNIFIL tahun 2011, dipimpin oleh Danyon Letkol Inf Yudha Medi.

    2. Secondary Training Audience.       Merupakan kelompok pengendali latihan yang selalu ikut dalam rapat sinkronisasi di CECG. Namun mereka tidak pure sebagai pengendali, yang hanya datang duduk kemudian memberikan persoalan dan melihat jawaban yang disediakan. Melainkan mereka juga aktif ikut membuat dan menyempurnakan produk persoalan,  menyiapkan data dan menciptakan situasi formal agar realisme latihan dapat tercapai. Bagi perwira dari Indonesia maupun negara lain yang terlibat sebagai pengendali ini adalah kesempatan belajar bagaimana bekerja secara internasional mengoperasikan suatu Misi PBB di tingkat UNFHQ dan di tingkat Batalyon Misi atau yang sering disebut interoperability.
      1. HICON (High Controller).

        Susunan Staf UNFHQ yang dimainkan HICON pada Garuda Shield 06/12
        Hicon tidak lain adalah penjelmaan dari UNFHQ dalam misi UNMIP. UNFHQ merupakan markas besar militer yang sehari-hari dipimpin oleh seorang Force Commander (FC) dan dibantu oleh seorang Chief of Staff (CoS).  Pada latihan ini FC diperankan oleh Co-Exercise Director secara bergantian, sedangkan CoS tidak dimainkan. Maka perannya digantikan oleh Asops (CHOPS / Chief of Ops) untuk memimpin TOC di UNFHQ.
        Selain memainkan staf UNFHQ, Hicon juga memainkan Role Play bagi Sector North Commander, Sector South commander dan UN Military Observer (UNMO) Commander dalam Commander Updated Brief, briefing situasi bagi Force Commander, setiap harinya.

        Area of Responsibility UNMIP pada Garuda Shield 06/12

      2. LOCON (Low Controller). Locon atau pengendali bawah, adalah kelompok yang memerankan satuan-satuan bawah. Tujuannya agar para pelaku, staf Brigade di level Sektor, mampu melatihkan komando dan pengendalian (Command and Control) dengan baik. Pada latihan ini LOCON memerankan 6 batalyon dari negara Indonesia (NDOBATT) dan Amerika (USBATT).

        Batalyon yang diperankan LOCON dalam latihan Garuda Shield 06/12

        Mekanisme Pengendalian Latihan Garuda Shield

        Diagram pengendalian Latihan pada garuda Shield 05/11
         

        1. Komunikasi dan Simulasi latihan CPX Garuda Shield. Penciptaan realisme latihan pada CPX Garuda Shield sangat tergantung pada kecanggihan teknologi yang digunakan. Sebenarnya kecanggihan teknologi diciptakan hanya untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas komunikasi antar satuan di misi PBB yang sebenarnya letaknya berjauhan. Sehingga sebelum terjun ke Misi sebenarnya para perwira perlu dilatih dalam penggunaan teknologi IT terbaru agar tidak gagap teknologi alias gaptek ketika terjun ke sana. Perlu diketahui bahwa konsep CPX Garuda Shield telah mengadopsi konsep operasi Misi PBB baik itu dalam pembuatan TOC, sistem pelaporan maupun komunikasinya sehingga diharapkan output perwira TNI maupun US yang telah melaksanakan Latma Garuda Shield mampu menjadi Pa Staf (Mil Staff) di Misi PBB yang sebenarnya.
        2. Player.  Untuk pelaku, pembuatan TOC telah memberikan gambaran bagaimana seharusnya Puskodal Ops beroperasi. Dimulai dari briefing pergantian shift (shift change), karena Misi PBB menggunakan format 24 jam operasi, sedangkan  CPX  Garuda Shield hanya menggunakan format 12 jam operasi sehingga shift malam diperanggapkan sudah berjalan, hingga diakhiri briefing para Komandan Bawahan kepada Force Commander melalui CUB (Commander Update Brief).

          Suasana Brigade Tactical Operation Center (TOC) pada Garuda Shield 06/12

          1. Penggunaan Command Control Personal Computer (C2PC). C2PC dikembangkan oleh industri strategis Amerika (Northwood Corp) bekerja sama dengan US DoD untuk kebutuhan latihan. Alat ini telah digunakan selama perang Irak. Dan penggunaannya dalam latihan Garuda Shield ini untuk menciptakan Common Operational Picture (COP), gambaran umum operasional di medan sebenarnya. C2PC menggunakan peta topografi yang dibuat dalam format digital, digital map. Sangat mudah dioperasikan oleh prajurit, penggunaannya seperti memainkan google earth dipadukan dengan power point.
            C2PC digunakan untuk membuat SITEMP dan EVENTTEMP  bagi kepentingan proses IPB (Intelligence Preparation for Battlespace) staf Intel Brigade. Selebihnya digunakan LOCON untuk membuat AOR serta penempatan dislokasi satuan bawahnya. Bagi LOCON, alat ini juga digunakan untuk membuat gambaran pergerakan pasukan di medan sebenarnya.

            Gambaran C2PC yang telah diedit oleh LOCON

          2. Closed WAN & LAN Exercise Network. Sistem networking yang menggunakan WAN dan LAN tertutup diasumsikan sebagai sistem moda komunikasi dalam Misi PBB yang sebenarnya. Ini akan melatih familiarisasi komunikasi surat menyurat formal dengan sistem email bagi pelaku latihan.
          3. UAV Recon Simulation. Menampilkan real time simulasi peluncuran pesawat tanpa awak untuk kebutuhan surveillance pada proses IPB.

            spesifikasi UAV yang di simulasikan

          4. Web-Based Email. Pembuatan sistem webmail dengan O.S Microsoft Exchange menjadi basic dalam sistem surat menyurat via WAN & LAN. Perlu diketahui, untuk pembuatan Web-Based email sejak Garuda Shield 04/10 telah diambil alih oleh pihak TNI melalui Disinfolahta sehingga ini bisa menjadi kebanggaan karena saat ini TNI AD telah mampu menyiapkan latihan etti posko berbasis LAN & WAN dengan Web-Based Email.
          5. Collaboration Capability (Chat/Video/Voice). Ini dimaksudkan ettivitas dan efisiensi dalam paralel planning Military Decision Making Process serta Teleconference antara Force Commander dengan para Sector Commander dan UNMO Commander.
          6. Exercise Web Page/Portal. Sistem et page digunakan untuk memudahkan penyimpanan data dan saling share informasi antar EXCON maupun melihat produk yang telah dihasilkan oleh PLAYER.
          7. Web-Based RFI/AAR Tool. RFI adalah Request for Information, jika satuan bawah ingin meminta informasi tentang satuan lain diluar garis komandonya maka mereka menanyakan ke Komando Atas secara formal yang dinamakan RFI. Di Garuda Shield, proses RFI dipermudah dengan pembuatan Web yang memudahkan seluruh RFI di track dengan baik sehingga tidak ada duplikasi di dalamnya.

            Bentuk RFI Tools
            Sedangkan AAR merupakan proses evaluasi pelaksanaan latihan sesuai dengan tujuan dan sasaran latihan. AAR Tools akan mempermudah Tim AAR dalam

            Bentuk AAR Tools

          8. Voice Communications (Field Phone/FM). Bentuknya melalui komunikasi telepon dan pengunaan HT. Fungsinya menciptakan realisme latihan hubungan telepon antara staf di UN Sector ke staf UNFHQ atau staf UN Batt.
          9. Printing and Scanning Capability. Penggunaan shared sprinter and shared scanning yang terhubung via Networks menciptakan efisiensi kerja tiap tiap bagian.
          10. Anti Virus Update System.                 Penggunaan antivirus terbaru mencegah terjangkitnya infeksi bersama antar komputer, selain itu penggunaan flash disk sangat dilarang dalam latihan ini sebagai langkah antisipasi tersebarnya virus komputer melalui USB connection.
          11. Baseline System configurations (Win7/MS2010). OS yang digunakan berbasis Windows 7 dan Microsoft Office 2010. Perlu diketahui dalam dukungan komputer dan komunikasi untuk latihan ini memerlukan 3 buah komputer dasar.
            1. Komputer sebagai webpage server.
            2. Komputer sebagai database.
            3. Komputer sebagai webmail server.
          12. Commercial ISP (Internet Service Provider). Layanan internet dengan bandwitch tinggi  ini menggunakan jaringan broadband atau jaringan pita lebar dukungan dari Telkom .
          13. Commercial Telephones (Base/IDD). Selain itu bagi para pelaku juga disediakan telepon komersial berbayar bagi peserta latihan dari Luar negeri.
      3. HICON. Setting ruang HICON haruslah menggambarkan TOC kantor UNFHQ. Disini para pengendali akan berlatih dalam mengendalikan pelaku dan belajar akan produk UNFHQ seperti OPORD, Frago, INTSUM, ROE, dll

        UN Force Headquarters (UNFHQ) TOC
        Metode komunikasi yang digunakan yakni melalui teleconference dalam CUB (Commander Update Brief). Ini memberikan realisme tentang hubungan briefing jarak jauh, “The World is Flat”, yang memberi pemahaman bagi perwira modern bahwa jarak yang jauh bukanlah kendala bagi komandan untuk pemberian perintah dan pelaporan komandan bawahan terhadap komandan atasan di era  modern  ini.

        Suasana Daily Brief di TOC UNFHQ yang diperankan HICON

      4. EXCON (LOCON + CECG).              Ruangan EXCON merupakan ruangan yang di setting bagi kelompok CECG dan LOCON. Selain itu sebuah meeting room dibuat khusus untuk penyelenggaraan MSEL Synch.

        Excon Room
        Sistem komunikasi yang digunakan oleh EXCON dalam menciptakan realisme latihan yakni melalui MSEL (MSEL Daily Diagram, MSEL Concept Map dan MSEL Implementers), C2PC (Command Control Personal Computer) atau MCS (Manuvere Combat System), Simulasi Pesawat dan email.

        Suasana UN BATT di LOCON

        Suasana penciptaan kondisi melalui SITFOR & WHITE CELL

  3. Mekanisme Pelaksanaan Latihan.            Mekanisme pelaksanaan latihan dimulai dari Seminar Akademis (Academic Seminar)  dilanjutkan dengan Mini Exercise yang merupakan test the water bagi pengendali kepada player untuk menentukan derajat pemberian MSEL pada pelaksanaan latihan.

    Time Line pada pelaksanaan Garuda Shield 02/08

  4. Academic Seminar.         Seminar akademi adalah pembelajaran bagi para peserta latihan baik itu player maupun HICON dan LOCON.mengenai pengetahuan maupun protap-protap yang ada dalam pelaksanaan misi perdamaian yang sebenarnya. Biasanya seminar akademik dilaksanakan selama 3 hari dengan metode ceramah dan diskusi.

    Pelaksanaan Seminar Akademik dengan metode ceramah dan diskusi pada  GS 04/10

  5. Mini Exercise.    Mini Exercise atau latihan kecil, merupakan latihan pendahuluanl bagi player maupun para pengendali latihan yang berada di CECG, HICON dan LOCON. Latihan ini dilaksanakan selama 3 hari sebelum pelaksanaan latihan yang sebenarnya. Secara umum latihan ini berfungsi untuk memastikan agar seluruh peserta latihan (pelaku dan pengendali) dapat menggunakan komputer yang tersedia dan alat C4I seperti C2PC atau MCS serta simulasi UAV.
    1. Bagi pengendali. Tujuan latihan ini agar para pengendali menguasai dan dapat mengaplikasikan MSEL, khususnya pengendali CECG mengerti apa tugas dan tanggung jawab mereka dan bisa mendeskripsikannya melalui taktik, tehnik dan prosedur dalam bekerja. Sedangkan bagi HICON dan LOCON, ini ditujukan agar mereka memahami, bisa menggunakan dan membuat berbagai produk yang berkaitan dengan skenario latihan. Latihan ini dibagi menjadi 2 tahapan.
      1. Tahap pertama (1 hari). Seluruh pengendali dikumpulkan untuk diberi pengarahan dengan metoda ceramah tentang materi umum seperti keadaan umum, keadaan khusus, setting strategis, susunan struktur organisasi latihan, dll. Tujuannya agar seluruh pengendali (CECG, LOCON, HICON) mengerti apa tugas dan tanggung jawab mereka dan bisa mendeskripsikannya melalui taktik, tehnik dan prosedur dalam bekerja.
      2. Tahap kedua (2 hari). Seluruh anggota pengendali kembali ke cell masing masing untuk melaksanakan pengecekan komunikasi (email dan telepon), familirisasi sistem operasi UN Force, Validasi MSEL dan mempersiapkan implementer sesuai cell nya, familirisasi proses RFI, dan validasi checklist Mini-Ex.
      3. Tahap ketiga (1 hari). CECG, LOCON dan HICON melaksanakan latihan pendahuluan fungsi komando dan pengendalian, meng-inject MSEL, role-play, dan bekerja dalam shared file di fasilitas website Garuda Shield. Kriteria keberhasilan adalah semua unsur pengendali baik itu CECG, HICON dan LOCON telah menyelesaikan semua tugas yang ada dalam checklist dan meyakinkan bahwa semua jalur komunikasi baik itu internet, radio, telepon dan teleconference semua  berjalan dengan baik.
    2. Bagi Pelaku (Player). Dalam Mini-Ex, pelaku akan dibimbing oleh SME dalam proses MDMP dan permintaan akan informasi ke komando atas atau RFI (Request for Information).

      Jadwal panduan proses MDMP dalam Mini Exercise bagi pelaku

      1. Battle Rhytm.    Adalah adaptasi dari format operasi 24 jam pada pelaksanaan Misi yang sebenarnya.

        Battle Rhytm pada Lama Garuda Shield

      2. Negotiation.                      Negosiasi merupakan suatu seni berkomunikasi dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan. Ini merupakan kegiatan tersulit yang harus disiapkan oleh penyelenggara karena para pemainnya (SITFOR) harus betul betul memahami jalannya skenario latihan, sehingga SITFOR commander bertindak sebagai sutradara, menyiapkan para aktor dan berkonsultasi dengan SME dalam penyiapan skenario negosiasi yang akan dimainkan. Bagi pelaku, proses negosiasi merupakan proses pembelajaran bagaimana menerapkan teori negosiasi yang telah diajarkan mulai dari tahapan penyiapan (bagi negosiasi yang direncanakan), atau langsung eksekusi dengan tiga tahap yakni : pendahuluan, diskusi itu sendiri dan penutup. Diakhiri dengan pelaporan hasil diskusi.

        Suasana Negosiasi antara Kol. Inf Farid Makruf (Bde Cdr GS 06/12)  dg SITFOR

      3. CUB to Bde Commander.                             Commander Update Brief yang dilakukan kepada Danbrig dilakukan oleh para Staf Brigade dan para Komandan Satuan bawah setiap pagi. Kalau dalam misi sebenarnya ini merupakan shift change brief yang mana shift sebelumnya akan memberikan brief kepada shift selanjutnya tentang kondisi last 24 hours and next 24 hours.

        Contoh paparan CUB BATT CDR kepada BDE CDR

      4. CUB to UN Force Commander.                   Proses CUB yang ini menggunakan metoda teleconference yang merupakan peranggapan komunikasi jarak jauh antara Force Commander dengan para Sector Commander. Ini juga membuka mata pada para perwira kita bahwa saat ini the World is Flat, jarak dan waktu bukanlah penghalang dalam pemberian perintah maupun pelaporan di dalam suatu misi.

        Suasana CUB to FC pada Garuda Shield 04/10

    1. MSEL.    Hampir sama seperti RIG yang berisi pedoman bagi seluruh pengendali dalam melakukan kegiatan di dalam CPX. Terdiri dari 2 bagian yakni :
  • MSEL Master yang berisi diagram kegiatan per hari. MSEL master sendiri dibagi menjadi dua bagian yakni :
    1. MSEL Concept Map. Yang merupakan diagram keseluruhan MSEL Master.

MSEL Concept Map

 

  1. MSEL Daily Diagram. Merupakan diagram penjabaran dari MSEL concept map, selalu disinkronkan dalam morning huddle dan MSEL synch meeting. Satu permasalahan bisa memakan 1 s.d 2 hari sampai dengan selesai.

MSEL Daily Diagram

 

  • MSEL implementer yang dikerjakan oleh para pengendali yang merupakan deskripsi HOW apa yang harus dikerjakan dalam inject MSEL.

Bentuk MSEL Implementers

 

    1. Daily SITREP.     Situation Report (SITREP) atau laporan harian dibuat oleh LOCON sebagai battalion respons cell. Laporan ini akan dianalisa dan dijadikan bahan acuan laporan bagi staf pelaku dalam pelaksanaan latihan. Bentuk SITREP ini mengacu pada format yang digunakan dalam Misi Penugasan PBB yang sebenarnya.

Mekanisme pengendalian latihan Garuda Shield

 

    1. OPORD & FRAGO.                           Tehnik pemberian perintah dari Komando atas menggunakan format Perintah Operasi (Operation Order) dan Perintah Parsil (Fragmantary Order). Dalam mekanisme ini dilatihkan bagaimana mekanisme pengambilan keputusan militer atau yang dikenal dengan nama military decision making process (MDMP).

Proses MDMP yang dipelajari di dalam Garuda Shield

 

    1. Stability Ops : INCREP & MEDEVAC.                        Operasi stabilitas yang merupakan salah satu materi yang dipelajari dalam latihan Garuda Shield ini, pembuatan Incident Report (Laporan Kejadian) dan Medical Evacuation (permintaan evakuasi medis) menjadi poin utama yang harus dipahami oleh seluruh peserta.

Garuda Shield 12 Stroryboard & Event

 

    1. Daily Hotwash & AAR.   Hotwash merupakan evaluasi langsung setelah pelaksanaan latihan. Pelaksanaan hotwash  dilakukan selama 20-30 menit dihadiri oleh Training audience yang terpilih dalam rangka melihat penyelesaian tujuan latihan dari hasil pelemparan MSEL hari itu. Observasi yang dilakukan oleh tim AAR berdasarkan UN DPKO STM (United Nations Departement Peacekeeping Operation Standard Training Module) Collection Sheets dan TEO Observation Sheets.

Format Daily AAR / Hotwash

 

Selain Daily AAR ada juga Negotiation Hotwash yang dilakukan selama 2-3 menit setelah pelaksanaan proses negosiasi. Biasanya dilakukan oleh SME difasilitasi oleh Senior Mentor kepada Bde Cdr atau staf terpilih langsung setelah proses negosiasi dilakukan.

 

    1. Press Conference.                            Atau konferensi pers adalah salah satu metoda untuk melatih ilmu public relations Komandan Misi. Seorang Komandan harus betul betul well prepared terhadap pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan media, dan staf harus betul betul menyiapkan Komandannya agar nampak berwibawa, charming, dan bersahabat dihadapan insan pers. Karena satu hari buruk berhadapan dengan media akan mempengaruhi citra operasi secara keseluruhan.

 

 

Kesimpulan

Ada dua hal yang dapat dipetik dalam Latihan Bersama Garuda Shield yang telah dilaksanakan selama 6 tahun sampai dengan sekarang :

Kemampuan Interoperability : Kerjasama Militer Internasional dan Penggunaan Metoda MDMP (Military Decision Making Process).           Banyak manfaat yang diperoleh oleh para Perwira kita setelah mengikuti latihan Garuda Shield diantaranya adalah mereka mengerti bagaimana cara berinteraksi dan bekerja sama dalam suatu sistem Komando dengan negara lain atau yang sering disebut dengan kemampuan Interoperability.

  1. Tentunya dalam melaksanakan interoperability diperlukan metoda yang seragam terutama dalam proses hubungan antara komandan dan staf yang berasal dari berbagai negara. Perlu diketahui hampir rata-rata militer di dunia terutama negara negara ABCA (America, British, Canada & Australia), Commonwealth dan NATO menggunakan MDMP dalam proses pengambilan keputusan bagi komandan dalam memimpin suatu operasi. Sehingga metoda ini, sampai sekarang dianggap “umum” dan “pantas” dijadikan metoda bersama dalam interoperability pada UN Mission di seluruh dunia.

Dengan dikenalkannya MDMP kepada para perwira TNI dalam latihan Garuda Shield maka metoda MDMP menjadi referensi baru bagi mereka yang terbiasa dengan format metode pengambilan keputusan TNI “prosedur hubungan komandan dan staf”. Sehingga ke depan diharapkan kita memiliki banyak Perwira yang eligible dalam penugasan sebagai Komandan dan perwira Staf di Misi Penugasan PBB. Yang tidak canggung dalam bergaul maupun bekerjasama sebagai suatu kesatuan interoperability.

 

    1. Perbandingan metoda MDMP dan Proses Pengambilan Keputusan TNI. Sedikit gambaran tentang perbandingan kedua metode tersebut. Pada dasarnya adalah sama namun ada beberapa perbedaan mendasar terutama tentang pemberian perintah peringatan dan proses pembuatan perkiraan yang di dalam MDMP merupakan rangkaian tiga proses yang terdiri dari COA Development, COA analysis dan COA comparison.

 

Perbandingan Proshub Komandan & Staf dengan MDMP

 

    1. Penjelasan Umum MDMP.          MDMP sendiri merupakan suatu metoda proses pengambilan keputusan  yang harus dipahami oleh komandan beserta stafnya dalam rangka menyelesaikan suatu tugas pokok. Dalam doktrin operasional, MDMP terletak pada tahap perencanaan yang mana produk akhirnya adalah perintah operasi.

MDMP terdiri dari tujuh langkah, yang tiap langkahnya merupakan gabungan metoda pemecahan permasalahan ala militer berupa art (seni) dan Science (ilmu) yang telah teruji dalam pertempuran (battle proven) sejak World War 2 hingga Iraqi War yang lalu.

Langkah MDMP yang dilatihkan dalam Latma Garuda Shield

 

  1. Kemampuan Interagency : Kerjasama Sipil-Militer internasional.             Hal lain yang didapat oleh para Perwira setelah latihan Garuda Shield adalah kemampuan Interagency dalam konteks Misi Penugasan PBB. Interagency sendiri adalah bagaimana suatu satuan militer dapat bekerja sama dengan satuan sipil yang berada di daerah operasinya. Apabila dalam konteks misi penugasan PBB ada beberapa komponen sipil yang harus bisa diajak kerja sama agar bisa menyelesaikan Tugas Pokok diantaranya adalah : PNG, Media, UN Agency, Dissident Party/Group.

PNG (Provision National Government) adalah kelompok partai resmi yang berkuasa yang berpengaruh mengendalikan jalannya Pemerintahan. Media adalah kelompok media massa baik itu cetak, elektronik maupun sosial yang ada dilingkup lokal maupun internasional. UN Agency adalah badan badan PBB yang ada dalam misi penugasan seperti UNHCR, UNICEF, WHO, UNDP yang dikelola dibawah OCHA  yang dipimpin seorang CACOORD (Civil Affairs Coordinator).

Sedangkan tehnik kerja sama sipil militer atau yang dikenal dengan nama civil-military relations sebenarnya sudah dikenal di kalangan Perwira kita dengan nama pembinaan teritorial (Binter) namun ini memperkaya khasanah binter kita dengan ilmu baru yang dimiliki mereka. Tehnik yang dilakukan dalam latihan ini memakai sistem kerja sama antara 3 staf yakni staf Cimic (Civil Military Corporations) yakni staf yang bertugas menjembatani kepentingan militer dengan pihak sipil, staf IO (Information Operations) yakni staf yang bertugas menganalisa kemudian membuat kontra maupun operasi penggalangan kepada masyarakat dan staf Public Affairs yang bertugas sebagai staf humas dan merilis berita pada media media agar pro terhadap misi penugasan kita.

Saran

Mengingat output yang sedemikian potensial bagi TNI dengan banyaknya personel yang telah mengikuti Latihan Garuda Shield baik dari segi kemampuan personel untuk menyelenggarakan latihan bersama, kemampuan personel untuk melatih dan melaksanakan tugas interoperability maupun interagency dalam misi penugasan PBB, kemampuan dalam teknik pembuatan dan mengoperasionalkan TOC (Tactical Operation Center) yang berupa Pusat Komando dan Kendali Gabungan yang bisa dioperasionalkan selama 24 Jam pada Misi sebenarnya, namun belum optimal dimanfaatkan oleh institusi terkait seperti PMPP dalam pemberian prioritas penugasan PBB, Kodiklat TNI dalam penyempurnaan Doktrin dan Latihan gabungan antar matra dan Staf Operasi TNI sebagai penyempurnaan pembuatan Puskodal Ops Gabungan agar mereka yang telah dilatih diberi kesempatan mengaplikasikan ilmu yang didapat demi kebaikan dan kejayaan TNI di masa yang akan datang.

Demikian tulisan ini disusun sebagai sumbangan pemikiran penulis, semoga bermanfaat bagi unsur TNI khususnya PMPP dalam penyiapan personel TNI untuk UN Mission dan Kodiklat TNI dalam pengembangan metode pengambilan keputusan dan TOC pada Kogasgab.

 

Kapten Arm Oke Kistiyanto, S.AP

Garuda Shield Exercise Planner (2007-2012)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *